Kamis, 30 Januari 2014

Gastrochicis


BAB I
PENDAHULUAN



Gastroschisis merupakan kelainan konginental dimana terjadi herniasi isi abdomen pada umbilicus.  Pada gastroschisis organ visera yang biasanya mengalami herniasi adalah usus. Usus yang mengalami herniasi atau keluar dari rongga abdomen akan berisiko mengalami infeksi. Gastroschisis hampir sama dengan omfalokel yang membedakan adalah gastroschisis sebagian besar  terletak disebelah kanan abdomen dan tidak ada hubungannya dengan abnormalitas kromoson.
Menurut T. W. Sadler, 1997 kelainan  gastroschicis terjadi pada  1:10.000 kelahiran , sedangkan omfalokel terjadi pada 2,5:10.000 kelahiran disertai dengan angka kematian yang tinggi (25 %) dan malformasi berat.  Angka hidup pada pasien gastroschicis lebih tinggi dibanding dengan omfalokel.
Kondisi kelainan konginental dimana terdapat defek pada abdomen seperti pada gastroschisis dan omfalokel ini dapat dideteksi lebih dini melalui pemeriksaan kehamilan.
Penatalaksanaan untuk gastroschis dan omfalokel adalah tindakan pembedahaan untuk mengembalikan kembali organ visera yang berada pada luar rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. Pembedahan ini dilakukan setelah persalilanan. Keberhasilan pembedahan bergantung pada ukuran derajat herniasi  yang terjadi dan kondisi jaringan karena terkadang terjadi nekrosis usus.
Berdasarkan hal tersebut maka kelompok kami akan membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien gastroschisis. Dalam makalah ini pembahasan meliputi anatomi fisiologi sistem pencernaan, definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan medis, penatalaksanaan diet, pengkajian, diagnose dan intervensi untuk pasien dengan gastroschisis.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Mahasiswa mampu memahami konsep asuhan keperawatan dengan Gastroschisis.















BAB II
TINJAUAN TEORI



Mulut merupakan bagian pertama dari saluran percernaan. Dinding kavum oris memiliki struktur untuk mastikasi di mana makanan akan di potong, di hancurkan oleh gigi, dan di lembapkan oleh saliva. Selanjutnya makanan tersebut akan membentuk bolus di mana massa terlapisi salivasi. (Sodikin : 2011)
Lidah tersusun atas otot yang pada bagian atas dan sampingnya di lapisi dengan membran mukosa. Lidah menempati kavum oris dan melekat secara langsung pada epiglotis dalam faring. Tiga ruang mirip celah membentuk struktur dalam mulut, yang memungkinkan cairan untuk melintas ke dalam faring. Pada permukaan atas dekat pangkal lidah terdapat alur berbentuk V yaitu sulkus terminalis yang memisahkan lidah bagian anterior dan posterior. Permukaan atas lidah dipenuhi banyak tonjolan kecil yang di sebut sebagai papil lidah. (Sodikin : 2011)
Gigi mempunyai ukuran dan bentuk berbeda beda. Setiap gigi memiliki tiga bagian, yaitu mahkota yang terlihat di atas gusi, leher yang di tutupi oleh gusi dan akar yang di tahan dalam soket tulang. Bagian dalam gigi adalah rongga pulpa yang mengandung saraf dan pembuluh darah. (Sodikin : 2011)
Esofagus merupakan tuba otot dengan ukuran 8-10 cm dari kartilago krikoid sampai bagian kardia lambung. Panjangnya bertambah selama 3 tahun setelah kelahiran, selanjutnya kecepatan pertumbuhan lebih lambat mencapai panjang dewasa yaitu 23-30 cm. Esofagus turun dan memasuki kavum abdomen melalui suatu apertura dalam diafragma. Setelah berkisar 1,25 cm, membuka kedalam lambung melalui orifisium kardiak. (Sodikin : 2011)
Lambung berbentuk lebar dan merupakan bagian yang dapat berdilatasi dari saluran cerna. Bentuk lambung bervariasi bergantung dari jumlah makanan di dalamnya, adanya gelombang peristaltik, tekanan dari organ lain, respirasi, dan postur tubuh. Posisi dan bentuk lambung juga sangat bervariasi, biasanya memiliki bentuk J terletak di kuadran kiri atas abdomen. (Sodikin : 2011)
Usus kecil terbagi menjadi duodenum, jejunum, dan ileum. Usus kecil memiliki panjang 300 – 350 cm saat lahir, mengalami peningkatan sekitar 50 % selama tahun pertama kehidupan, dan berukuran ± 6 m saat dewasa. Deudenum merupakan bagian terpendek dari usus kecil yaitu sekitar 7,5 – 20 cm dengan diameter 1 – 1,5 cm. Dinding usus terbagi menjadi empat lapisan, yaitu mukosa, submukosa, muskuler, dan serosa ( peritonial). (Sodikin : 2011)
Usus besar berjalan dari katup ileosaekal ke anus. Usus besar dibagi menjadi bagian sekum, kolon asedens, kolon transversun, kolon desendens, dan kolon sigmoid. Panjang usus besar bervariasi, berkisar sekitar ± 180 cm. (Sodikin : 2011)
Glandula paling besar dalam tubuh dan memiliki berat ± 1.300 – 1.550 gram. Hepar berwarna merah coklat, sangat vascular, dan lunak berbentuk baji dengan dasar pada sisi kanan dan apeks pada sisi kiri. Organ ini terletak pada kuadran kanan atas abdomen dan dilindungi oleh kartilago koskalis. (Sodikin : 2011)
Pankreas terletak transversal di perut bagian atas, antara duodenum dan limpa dalam retroperitonium. Kaput pankreas, yang bersandar pada vena kava dan vena renalis, melekat pada lengkungan C deudenum dan melingkari di sekat duktus koledokus. (Sodikin : 2011)
Merupakan membran serosa yang tipis, licin dan lembab yang melapisi rongga peritonium dan banyak organ perut seperti cavum abdomen dan pelvis. Peritonium menutupi visera, walaupun beberapa hanya ditutupi pada permukaan abdominal dan pelvis. Peritoneum seperti pleura tersusun dari dua lapisan yang berkotak yaitu lapisan parietal dan viseral. (Sodikin : 2011)

Fisiologi saluran pencernaan terdiri atas rangkaian proses memakan (ingesti) dan sekresi getah pencernaan ke sistem pencernaan. Getah pencernaan membantu pencernaan atau digesti pencernaan, hasil pencernaan akan diserap (diabsorpsi) kedalam tubuh berupa zat gizi. Proses sekresi, digesti, dan absorbsi terjadi secara berkesinambungan pada saluran pencernaan, mulai dari atas yaitu mulut sampai ke rektum. Secara bertahap, massa hasil campuran makanan dan getah pencernaan (bolus) yang telah di cerna, di dorong (di gerakkan) ke arah anus (motilitas). Sisa massa yang tidak di absorpsi di keluarkan melalui anus (defekasi) berupa feses. (Sodikin : 2011)


Menurut kamus keperawatan gastroschisis adalah kelainan konginental tidak tertutupnya dinding abdomen secara lengkap disebelah kanan tali pusat yang normal, dengan akibat terjadinya protrusion alat visceral yang tidak tertutup oleh peritoneum. (Sue Hinchliff : 1999)
Gastroschisis adalah defek dinding abdomen ketebalan penuh yang ukurannya bervariasi dab biasanya terjadi di sebelah kanan tali pusat. Isi abdomen yang hernaisi (misalnya usus, lambung, kandung kemih, hepar) terpajan penuh pada cairan amnion in utero yang menyebabkna tampak tebal dan kesat. (Paulette S Haws : 2008)
Gastroschicis adalah keluarnya usus dari titik terlemah di kanan umbilikus dimana usus akan berada di luar rongga perut tanpa dibungkus peritoneum dan amnion. (R. Sjamsuhidayat : 1997)
Gastroschicis adalah penonjolan kulit melalui suatu defek dinding abdomen (biasanya disebelah kanan tali pusat yang sehat). Usus tidak tertutup sehingga berisiko infeksi dan trauma. Gastroschicis biasanya tidak berhubungan dengan abnormalitas kromoson. (Vicky Chapman : 2006)
Gastroschicis adalah herniasi isi perut melalui dinding badan, langsung ke dalam rongga amnion. Cacat ini terjadi disebelah lateral pusat, biasanya disisi kanan, melaui suatu daerah yang lemah karena regresi vena umbilicus kanan, yang normalnya menghilang. Visera tidak terbungkus oleh peritoneum atau amnion, dan usus bias rusak karena terpajan pada cairan amnion. (T. W. Sadler : 1997)
Gastroschicis adalah suatu kondisi yang mirip dengan omfalokel, kecuali bahwa defek dinding abdomen jauh dari umbilicus dan organ abdomen tidak dilapisi oleh lapisan peritoneum tetapi lebih tertumpah abdomen secara bebas. (Sharon J. Reeder et all : 2011)
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa gastroschisis adalah kelainan konginental yang terjadi karena adanya defek pada abdomen yang biasanya terletak disebelah kanan yang menyebabkan organ visera terletak disebelah luar rongga abdomen tanpa dibungkus peritoneum dan amnion.

Gastroschisis kemungkinan disebabkan oleh rupture dasar tali pusat didaerah yang telah mengalami kelemahan akibat involusi vena umbilikalis kanan sehingga memudahkan isi abdomen herniasi ke rongga amnion. (Paulette S Haws : 2008)
Pada awalnya terdapat sepasang vena umbilikalis, yaitu vena umbilikalis kanan dan kiri. Ruptur tersebut terjadi in-utero pada daerah lemah yang sebelumnya terjadi herniasi fisiologis akibat involusi dari vena umbilikalis kanan. Keadaan ini menerangkan mengapa gastroschisis hampir selalu terjadi di lateral kanan dari umbiliks. Teori ini didukung oleh pemeriksaan USG secara serial , dimana pada usia 27 minggu terjadi hernia umbilikalis dan menjadi nyata gastroschisis pada usia 34,5 minggu. Setelah dilahirkan pada usia 35 minggu, memang tampak gastroschisis yang nyata. (Ishawati Nur Idris : 2011)
Factor resiko tinggi yang berhubungan dengan omphalocel atau gastroschizis adalah resiko tinggi kehamilan seperti:

Menurut Suriadi & Yuliani.R patofisiologi dari gastroschizis atau omphalocele yaitu selama perkembangan embrio ada suatu kelemahan yang terjadi didalam dinding abdomen semasa embrio yang mana menyebabkan herniasi pada isi usus pada salah satu samping umbilicus (yang biasanya pada samping kanan), ini menyebabkan organ visera abdomen keluar dari kapasitas abdomen dan tidak tertutup oleh kantong. Terjadi malrotasi dan menurunnya kapasitas abdomen yang dianggap sebagai anomaly. (Nn : 2011)
Gastroschicis pada janin usia 6 minggu isi abdomen terletak di luar embrio di rongga selon. Pada usia 10 minggu akan terjadi pengembangan lumen abdomen sehingga usus dari ekstra peritoneum akan masuk ke rongga perut. Bila proses ini terhambat akan terbentuk kantong di pangkal umbilikus yang berisi usus, lambung, dan kadang hati. Dindingnya tipis, terdiri atas lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang keduanya bening sehingga isi kantong tampak dari luar. Keadaan ini di sebut omfalokel. Bila usus keluar dari titik lemah di lateral umbilikus baik sisi kanan atau kiri, usus akan berada di luar rongga perut tanpa di bungkus peritoneum dan amnion. Keadaan ini di sebut gastroschisis. ( R. Sjamsuhidajat. et al. : 2010)
Gastroschicis terbentuk akibat kegagalan fusi somite dalam pembentukan dinding abdomen sehingga dinding abdomen sebagian terbuka. Letak defek umumnya disebelah kanan umbilicus yang berbentuk normal. Usus sebagian besar berkembang diluar rongga abdomen janin, akibatnya usus menjadi tebal dan kaku karena pengendapan dan iritasi cairan amnion dalam kehidupan intra uterin, usus juga tampak pendek, rongga abdomen janin sempit. Usus – usus, visera, dan seluruh rongga abdomen berhubungan dengan dunia luar menyebabkan penguapan dan pancaran panas dari tubuh cepat berlangsung, sehingga terjadi dehidrasi dan hipotermi, kontaminasi usus dengan kuman juga dapat terjadi dan menyebabkan sepsis, aerologi menyebabkan usus – usus distensi sehingga mempersulit koreksi pemasukan kerongga abdomen sewaktu pembedahan. (Nn : 2011)
Gastroschisis merupakan suatu kelainan ketebalan dinding perut yang lokasinya biasanya disebelaj umbilicus. Usus yang keluar dari lubang abdomen memperlihatkan tanda-tanda peritonitis kimia sebagai akibat pengeluaran cairan amnion. Usus menjadi tebal, pendek dan kaku dengan edema yang jelas di dinding usus. Karena pengendapan dan iritasi cairan amnion dalam kehidupan intrauterine. Peristaltic tidak ada, kadang-kadang terjadi iskemik karena puntiran kelainan fascia. Usus  tampak pendek, rongga abdomen janin menjadi sempit.pada anak memperlihatkan gambaran udara sebagai hasil dilatasi perut dan usus kecil bagian proksimal, isi intra abdomen normal jelas terlihat dengan kelainan, yang mana herniasi terjadi pada periode post natal. (Nn:2009)

Kelainan congenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan lain yang memperburuk prognosis.


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kelainan-kelainan pada janin menurut Dr. Greg Agung H. SpOG adalah
Bersamaan dengan pemeriksaan in spekulo, dokter juga akan melakukan pemeriksaan dalam atau colok vaginal. Dikatakan colok vaginal karena dilakukan dengan cara perabaan memakai dua jari dokter yang dimasukkan ke dalam vagina. Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat besar rahim atau ukurannya, serta untuk mendeteksi adanya kelainan bawaan rahim. “Selain itu, juga bisa teraba kalau ada benjolan tumor ataupun polip.”
Dilakukan pada ibu hamil muda atau ibu yang pertama kali datang untuk memeriksakan diri ke dokter ahli kebidanan dan kandungan. Karena itu in spekulo dikatakan sebagai pemeriksaan dasar. Pemeriksaan ini menggunakan spekulum cocor bebek yang dimasukkan ke vagina. Gunanya untuk melihat keadaan permukaan di leher rahim. Dari pemeriksaan ini, dokter akan mengetahui apakah ibu yang datang sedang hamil muda atau tidak. Sebab, kala hamil muda rahim akan berubah warna agak keunguan. Dari pemeriksaan ini pula dokter akan mengetahui apakah di permukaan leher rahim ada infeksi, jengger ayam/kandiloma, varises, ataupun bila ada keganasan atau kanker leher rahim. Dengan demikian, bila dari hasil pemeriksaan ditemukan hal-hal tersebut dokter bisa segera menentukan langkah-langkah pengobatannya.
USG juga bisa melihat jumlah bayinya, apakah bayinya terletak di dalam atau di luar kandungan, serta lokalisasi plasenta. Bahkan USG serial mampu menilai perkembangan siklus dari telur tiap harinya. Juga untuk memantau masa subur si wanita. Tidak hanya di trimester I, USG juga perlu dilakukan di usia kehamilan trimester II dan III. “USG yang dilakukan pada trimester II gunanya untuk skrining bayi. Sedangkan di trimester III dilakukan untuk memantau proses persalinan
Dilakukan dengan meraba rahim dari luar untuk melihat pembesaran rahim, letak janin, gerakan janin, serta kontraksi rahim. Dari pemeriksaan ini pula akan diketahui apabila pembesaran rahim tak sesuai usia kehamilannya. Kalau rahimnya besar, tapi tak sesuai dengan usia kehamilannya, maka dokter perlu mencari tahu, apakah janinnya besar atau tidak. Di trimester III, pemeriksaan luar akan dibantu dengan doppler atau CTG/Cardiotokografi untuk merekam denyut jantung bayinya.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi dini kelainan-kelainan yang ada di leher rahim atau untuk menilai sel-sel leher rahim. Mengapa demikian? Karena sel-sel leher rahim selalu berubah sesuai siklus. Bukankah pengaruh hormon estrogen dan progesteron menyebabkan perubahan pada sel-sel selaput lendir vagina? Sehingga secara tak langsung pemeriksaan ini juga berguna untuk mengetahui fungsi hormonal. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil getah serviks kemudian diperiksa di laboratorium.
Dilakukan bila ada kecurigaan di daerah leher rahim dengan cara diteropong. Alat kolposkopi terdiri atas dua alat pembesaran optik yang ditempatkan pada penyangga yang terbuat dari besi. “Dengan teropong kolposkopi, kita bisa membesarkan hal-hal yang dicurigai didaerah leher rahim hingga 20 kali lebih besar.” Bukan hanya peneropongan, alat ini juga sekaligus bisa langsung memberikan tes. Artinya, dengan disemprotkan obat tertentu, maka daerah yang dicurigai itu akan berubah warna menjadi putih atau warna lain.
Adalah pengangkatan dan pemeriksaan jaringan dari leher rahim untuk tujuan diagnosa. “Kalau pada pemeriksaan pap smear dilakukan dengan cara mengambil hapusan cairan leher rahim. Kalau biopsi, jaringannya yang diambil dengan semacam alat atau jepitan.” Selanjutnya, jaringan yang telah diambil itu dikirim ke laboratorium. “Biasanya biopsi dilakukan bila ada kecurigaan berupa benjolan asing atau ada perubahan anatomi. Karena itu harus dilakukan pengambilan jaringan untuk melihat apakah benjolan asing itu adalah polip, tumor, atau kanker.
Diagnostik kuretase dilakukan untuk mengambil sel-sel dari jalan lahir. “Biasanya dilakukan pada pasien yang mengalami perdarahan diluar haid. Apalagi bagi yang sudah menopause.” Gunanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan di jalan lahir atau di dalam rahim atau bila ada keganasan. Waktu pemeriksaan bisa dilakukan kapan saja bila ada perdarahan.
Dilakukan pada pasien-pasien yang terkena infeksi berulang. Misalnya, keputihan yang berulang atau radang panggul yang tak kunjung sembuh.Bila ada gejala seperti di atas, maka dokter akan mengambil cairan di vaginanya untuk dilihat di laboratorium. Kuman-kuman apakah yang ada di dalamnya. “Dari situ kita bisa memberi obat sesuai kuman yang didapat di daerah itu. Biasanya obatnya berupa antibiotik disertai cairan pembersih vagina untuk memanipulasi pH vagina agar menjadi asam
Seperti halnya hidrotubasi, HSG dilakukan untuk menilai saluran tuba dan tumor-tumor yang ada di sekitarnya. “Saluran tuba ini bisa terbelokkan oleh adanya tumor. Karena itu diperlukan pemeriksaan HSG.” Pemeriksaan HSG juga dilakukan pada hari ke-7 hingga ke-11 siklus haid. “Karena saat itu dinding dalam rahim paling tipis, juga sel telur tidak ada, sehingga paling pas untuk dilakukan pemeriksaan HSG ataupun hidrotubasi.
Sama seperti halnya HSG, pemeriksaan ini digunakan untuk menilai saluran tuba. “Jika HSG menggunakan zat radioaktif, maka hycosy memakai bantuan USG vaginal.” Hycosy merupakan pencanggihan dari hidrotubasi. Jadi, bisa dilakukan sekaligus dengan hidrotubasi.
Suatu alat yang masuk ke dalam rahim yang dilengkapi dengan kamera, sehingga visualisasi yang dicapai lebih baik. “Sementara kalau HSG tidak bisa melihat permukaan dalam rahim, seperti kalau ada polip, maka dengan histeroskopi akan terlihat permukaan dalam rahim dan saluran tuba.” Histeroskopi juga sekaligus bisa untuk diagnosis dan terapi. “Jadi, kalau ditemukan polip di rahim, kita bisa langsung melasernya. Pun kalau ada kelainan lainnya bisa langsung diambil. Bahkan kalau ada sekat dalam rahim, bisa langsung dilakukan pemotongan sekat tersebut.
Pemeriksaan untuk melihat bagian dalam rahim secara keseluruhan. Jadi, semuanya akan kelihatan. Dalam pemeriksaan ini akan dimasukkan suatu alat teropong yang ditembuskan melalui perut. Itulah mengapa, pemeriksaan laparoskopi termasuk dalam tindakan operatif.

Bila usus atau organ intra abdomen terletak diluar abdomen, maka akan meningkatkan resiko kerusakan bila melewati kelahiran normal. Banyak ahli menganjurkan diberlakukan seksio sesaria untuk semua kasus Gastroschisis. Kondisi gastroschisis ini diperbaiki setelah persalinan melui pembedahan.
Dilakukan secara bertahap tergantung besar kecilnya lubang pada dinding abdomen. Tujuan pembedahan adalah untuk mengembalikan visera kedalam kavum abdomen dan menutup lubang abdomen. Operasi ini harus dikerjakan secepat mungkin sebab tidak ada perlindungan infeksi. Operasi dua tahap :
Permukaan luar kantong disiapkan bersama-sama dengan kulit seluruh badan. Pangkal umbilikus direamputasi dan diikat dekat batasnya dengan kantong. Kulit diiris melingkar 1 cm dari tepi kantong yang tidak boleh dibuka. Kulit dan jaringan subkutan dinding abdomen dan panggul secara ekstensif dilepaskan dari lapisan aponeurosis untuk memungkinkan masa ekstra abdomen ditutup dengan potongan kulit yang viabel. Diseksi toraks harus dibatasi sesedikit mungkin sesuai dengan penutupan kulit yang diberikan. Potongan kulit diangkat dengan forsep jaringan dan penutupan dilakukan dengan memakai jahitan kasur simpul.
Tahap ini ditunda sampai ronga perut berkembang dan telah dimungkinkan mereduksi hernia ventral jika anak berbaring dengan tenang. Pada waktu operasi kulit dan kantong yang berlebihan dieksisi dan peritoneum, lapisan-lapisan fasia serta kulit didekatkan seperti pada reparasi tahap I. (Nn : 2009)
Pada sekitar 7-12 hari pasca pembedahan anak akan kembali mengalimi pembedahan untuk menjalani perbaikan cacat, namun ini tergantung kondisi bayi (lemah atau tidak). (Nn : 2011)


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN


Pengkajian pada pasien dengan gastroschicis adalah

Diagnosa Preoprasi
Kriteria hasil :
Intervensi :
Kriteria hasil :
Intervensi :
Kriteria hasil :
Intervensi :
Kriteria hasil :
Intervensi :
Diagnosa Post Operasi :
Kriteria hasil :
Intervensi :
Kriteria hasil :
Intervensi :
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama…..pasien menunjukkan keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:
NIC :
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama…..pasien menunjukkan keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:
NIC :








BAB IV
PENUTUP


Gastroschisis  adalah kelainan konginental yang terjadi karena adanya defek pada abdomen yang biasanya terletak disebelah kanan yang menyebabkan organ visera terletak disebelah luar rongga abdomen tanpa dibungkus peritoneum dan amnion. Gastroschisis kemungkinan disebabkan oleh rupture dasar tali pusat didaerah yang telah mengalami kelemahan akibat involusi vena umbilikalis kanan sehingga memudahkan isi abdomen herniasi ke rongga amnion. Komplikasi dini dari gastroschicis adalah infeksi yang mudah terjadi pada permukaan usus yang telanjang. Kondisi gastroschisis ini diperbaiki setelah persalinan melui pembedahan. Pembedahan dilakukan 2 tahap dengan tujuan untuk mengembalikan visera kedalam kavum abdomen dan menutup lubang abdomen. Diagnosa keperawatan untuk kasus gastroschicis adalah

Dari penjelasan diatas penulis memiliki beberapa saran diantaranya:






















DAFTAR PUSTAKA


Bagus, Herman. 2013. “Diagnosa Keperawatan NANDA”. (Online), (http://daftar-diagnosa-keperawatan-nanda-noc.html, diakses pada 25 Oktober)
Chapman, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan : persalinan dan kelahiran. Jakarta : EGC.
Cunningham, F.G et all. 2005. Obstretri Williams. Jakarta : EGC.
H, Greg Agung.”Pemeriksaan Kehamilan”, (Online), (http://greg-spog. com/ pelayanan/pemeriksaan-kehamilan/ , diakses pada 25 Oktober 2013 )
Haws, Paulette S. 2008. Asuhan Neonatus. Jakarta : EGC.
Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan. Jakarta : EGC.
Idris, Ishawati Nur.2011. ”Gastrochisis”, (Online), (http://iisidris.blogspot.com/ 2011/01/gastroschisis.html, diakses pada 25 Oktober  2013)
Mahyudin, Oden. 2011. “Gastroschisis”, (Online), (http://asromedika.blogspot. com/2011/10/gastroschisis.html, diakses pada 25 Oktober 2013)
Nn. 2009. “Gastroschicis”, (Online), (http://tentangkedokteran .wordpress, com/ 2009/03/14/gastroschicis/, diakses pada 25 Oktober 2013)
Nn. 2011. “Askep Anak dengan Gastroschizis”, (Online), (http://nayyara09 habib10.blogspot.com/2011/03/askep-anak-dengan-gastroschizis.html, diakses pada 25 Oktober 2013)
Sadler, T. W.1997. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta : EGC.
Sharon J. Reeder et all. 2011. Keperawatan Maternitas : Kesehatan Wanita, Bayi, & Keluarga. Jakarta : EGC.
Sjamsuhidajat,R. et al. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong. Jakarta: EGC.
Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan : Gangguan Sistem Gastrointestinal dan Hepatobilier. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M dan Nancy R. Ahern. 201. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.






0 komentar:

Posting Komentar

 

Richa Faric Copyright © 2008 Black Brown Art Template designed by Ipiet's Blogger Template