BAB
I
PENDAHULUAN
Gastroschisis merupakan kelainan
konginental dimana terjadi herniasi isi abdomen pada umbilicus. Pada gastroschisis organ visera yang biasanya
mengalami herniasi adalah usus. Usus yang mengalami herniasi atau keluar dari
rongga abdomen akan berisiko mengalami infeksi. Gastroschisis hampir sama
dengan omfalokel yang membedakan adalah gastroschisis sebagian besar terletak disebelah kanan abdomen dan tidak
ada hubungannya dengan abnormalitas kromoson.
Menurut T. W. Sadler, 1997 kelainan gastroschicis terjadi pada 1:10.000 kelahiran , sedangkan omfalokel
terjadi pada 2,5:10.000 kelahiran disertai dengan angka kematian yang tinggi
(25 %) dan malformasi berat. Angka hidup
pada pasien gastroschicis lebih tinggi dibanding dengan omfalokel.
Kondisi kelainan konginental dimana
terdapat defek pada abdomen seperti pada gastroschisis dan omfalokel ini dapat
dideteksi lebih dini melalui pemeriksaan kehamilan.
Penatalaksanaan untuk gastroschis dan
omfalokel adalah tindakan pembedahaan untuk mengembalikan kembali organ visera
yang berada pada luar rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. Pembedahan ini
dilakukan setelah persalilanan. Keberhasilan pembedahan bergantung pada ukuran
derajat herniasi yang terjadi dan
kondisi jaringan karena terkadang terjadi nekrosis usus.
Berdasarkan hal tersebut maka kelompok
kami akan membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien gastroschisis. Dalam
makalah ini pembahasan meliputi anatomi fisiologi sistem pencernaan, definisi,
etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan medis,
penatalaksanaan diet, pengkajian, diagnose dan intervensi untuk pasien dengan
gastroschisis.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
Mahasiswa
mampu memahami konsep asuhan keperawatan dengan Gastroschisis.
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
Mulut merupakan bagian pertama dari
saluran percernaan. Dinding kavum oris memiliki struktur untuk mastikasi di
mana makanan akan di potong, di hancurkan oleh gigi, dan di lembapkan oleh
saliva. Selanjutnya makanan tersebut akan membentuk bolus di mana massa
terlapisi salivasi. (Sodikin : 2011)
Lidah tersusun atas otot yang pada
bagian atas dan sampingnya di lapisi dengan membran mukosa. Lidah menempati
kavum oris dan melekat secara langsung pada epiglotis dalam faring. Tiga ruang
mirip celah membentuk struktur dalam mulut, yang memungkinkan cairan untuk
melintas ke dalam faring. Pada permukaan atas dekat pangkal lidah terdapat alur
berbentuk V yaitu sulkus terminalis yang memisahkan lidah bagian anterior dan
posterior. Permukaan atas lidah dipenuhi banyak tonjolan kecil yang di sebut
sebagai papil lidah. (Sodikin : 2011)
Gigi mempunyai ukuran dan bentuk berbeda
beda. Setiap gigi memiliki tiga bagian, yaitu mahkota yang terlihat di atas
gusi, leher yang di tutupi oleh gusi dan akar yang di tahan dalam soket tulang.
Bagian dalam gigi adalah rongga pulpa yang mengandung saraf dan pembuluh darah.
(Sodikin : 2011)
Esofagus merupakan tuba otot dengan
ukuran 8-10 cm dari kartilago krikoid sampai bagian kardia lambung. Panjangnya
bertambah selama 3 tahun setelah kelahiran, selanjutnya kecepatan pertumbuhan
lebih lambat mencapai panjang dewasa yaitu 23-30 cm. Esofagus turun dan
memasuki kavum abdomen melalui suatu apertura dalam diafragma. Setelah berkisar
1,25 cm, membuka kedalam lambung melalui orifisium kardiak. (Sodikin : 2011)
Lambung berbentuk lebar dan merupakan
bagian yang dapat berdilatasi dari saluran cerna. Bentuk lambung bervariasi
bergantung dari jumlah makanan di dalamnya, adanya gelombang peristaltik,
tekanan dari organ lain, respirasi, dan postur tubuh. Posisi dan bentuk lambung
juga sangat bervariasi, biasanya memiliki bentuk J terletak di kuadran kiri
atas abdomen. (Sodikin : 2011)
Usus kecil terbagi menjadi duodenum,
jejunum, dan ileum. Usus kecil memiliki panjang 300 – 350 cm saat lahir,
mengalami peningkatan sekitar 50 % selama tahun pertama kehidupan, dan
berukuran ± 6 m saat dewasa. Deudenum merupakan bagian terpendek dari usus
kecil yaitu sekitar 7,5 – 20 cm dengan diameter 1 – 1,5 cm. Dinding usus
terbagi menjadi empat lapisan, yaitu mukosa, submukosa, muskuler, dan serosa (
peritonial). (Sodikin : 2011)
Usus besar berjalan dari katup
ileosaekal ke anus. Usus besar dibagi menjadi bagian sekum, kolon asedens,
kolon transversun, kolon desendens, dan kolon sigmoid. Panjang usus besar
bervariasi, berkisar sekitar ± 180 cm. (Sodikin : 2011)
Glandula paling besar dalam tubuh dan
memiliki berat ± 1.300 – 1.550 gram. Hepar berwarna merah coklat, sangat
vascular, dan lunak berbentuk baji dengan dasar pada sisi kanan dan apeks pada
sisi kiri. Organ ini terletak pada kuadran kanan atas abdomen dan dilindungi
oleh kartilago koskalis. (Sodikin : 2011)
Pankreas terletak transversal di perut
bagian atas, antara duodenum dan limpa dalam retroperitonium. Kaput pankreas,
yang bersandar pada vena kava dan vena renalis, melekat pada lengkungan C
deudenum dan melingkari di sekat duktus koledokus. (Sodikin : 2011)
Merupakan membran serosa yang tipis,
licin dan lembab yang melapisi rongga peritonium dan banyak organ perut seperti
cavum abdomen dan pelvis. Peritonium menutupi visera, walaupun beberapa hanya
ditutupi pada permukaan abdominal dan pelvis. Peritoneum seperti pleura
tersusun dari dua lapisan yang berkotak yaitu lapisan parietal dan viseral. (Sodikin
: 2011)
Fisiologi
saluran pencernaan terdiri atas rangkaian proses memakan (ingesti) dan sekresi
getah pencernaan ke sistem pencernaan. Getah pencernaan membantu pencernaan
atau digesti pencernaan, hasil pencernaan akan diserap (diabsorpsi) kedalam
tubuh berupa zat gizi. Proses sekresi, digesti, dan absorbsi terjadi secara
berkesinambungan pada saluran pencernaan, mulai dari atas yaitu mulut sampai ke
rektum. Secara bertahap, massa hasil campuran makanan dan getah pencernaan
(bolus) yang telah di cerna, di dorong (di gerakkan) ke arah anus (motilitas).
Sisa massa yang tidak di absorpsi di keluarkan melalui anus (defekasi) berupa
feses. (Sodikin : 2011)
Menurut kamus
keperawatan gastroschisis adalah kelainan konginental tidak tertutupnya dinding
abdomen secara lengkap disebelah kanan tali pusat yang normal, dengan akibat
terjadinya protrusion alat visceral yang tidak tertutup oleh peritoneum. (Sue
Hinchliff : 1999)
Gastroschisis adalah
defek dinding abdomen ketebalan penuh yang ukurannya bervariasi dab biasanya
terjadi di sebelah kanan tali pusat. Isi abdomen yang hernaisi (misalnya usus,
lambung, kandung kemih, hepar) terpajan penuh pada cairan amnion in utero yang
menyebabkna tampak tebal dan kesat. (Paulette S Haws : 2008)
Gastroschicis adalah keluarnya
usus dari titik terlemah di kanan umbilikus dimana usus akan berada di luar
rongga perut tanpa dibungkus peritoneum dan amnion. (R. Sjamsuhidayat : 1997)
Gastroschicis adalah
penonjolan kulit melalui suatu defek dinding abdomen (biasanya disebelah kanan
tali pusat yang sehat). Usus tidak tertutup sehingga berisiko infeksi dan
trauma. Gastroschicis biasanya tidak berhubungan dengan abnormalitas kromoson.
(Vicky Chapman : 2006)
Gastroschicis adalah
herniasi isi perut melalui dinding badan, langsung ke dalam rongga amnion.
Cacat ini terjadi disebelah lateral pusat, biasanya disisi kanan, melaui suatu
daerah yang lemah karena regresi vena umbilicus kanan, yang normalnya
menghilang. Visera tidak terbungkus oleh peritoneum atau amnion, dan usus bias
rusak karena terpajan pada cairan amnion. (T. W. Sadler : 1997)
Gastroschicis adalah
suatu kondisi yang mirip dengan omfalokel, kecuali bahwa defek dinding abdomen
jauh dari umbilicus dan organ abdomen tidak dilapisi oleh lapisan peritoneum
tetapi lebih tertumpah abdomen secara bebas. (Sharon J. Reeder et all : 2011)
Dari beberapa
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa gastroschisis adalah kelainan
konginental yang terjadi karena adanya defek pada abdomen yang biasanya
terletak disebelah kanan yang menyebabkan organ visera terletak disebelah luar
rongga abdomen tanpa dibungkus peritoneum dan amnion.
Gastroschisis
kemungkinan disebabkan oleh rupture dasar tali pusat didaerah yang telah mengalami
kelemahan akibat involusi vena umbilikalis kanan sehingga memudahkan isi
abdomen herniasi ke rongga amnion. (Paulette S Haws : 2008)
Pada awalnya terdapat
sepasang vena umbilikalis, yaitu vena umbilikalis kanan dan kiri. Ruptur
tersebut terjadi in-utero pada daerah lemah yang sebelumnya terjadi herniasi
fisiologis akibat involusi dari vena umbilikalis kanan. Keadaan ini menerangkan
mengapa gastroschisis hampir selalu terjadi di lateral kanan dari umbiliks.
Teori ini didukung oleh pemeriksaan USG secara serial , dimana pada usia 27
minggu terjadi hernia umbilikalis dan menjadi nyata gastroschisis pada usia
34,5 minggu. Setelah dilahirkan pada usia 35 minggu, memang tampak
gastroschisis yang nyata. (Ishawati Nur Idris : 2011)
Factor
resiko tinggi yang berhubungan dengan omphalocel atau gastroschizis adalah
resiko tinggi kehamilan seperti:
Menurut
Suriadi & Yuliani.R patofisiologi dari gastroschizis atau omphalocele yaitu
selama perkembangan embrio ada suatu kelemahan yang terjadi didalam dinding
abdomen semasa embrio yang mana menyebabkan herniasi pada isi usus pada salah
satu samping umbilicus (yang biasanya pada samping kanan), ini menyebabkan
organ visera abdomen keluar dari kapasitas abdomen dan tidak tertutup oleh
kantong. Terjadi malrotasi dan menurunnya kapasitas abdomen yang dianggap
sebagai anomaly. (Nn : 2011)
Gastroschicis
pada janin usia 6 minggu isi abdomen terletak di luar embrio di rongga selon.
Pada usia 10 minggu akan terjadi pengembangan lumen abdomen sehingga usus dari
ekstra peritoneum akan masuk ke rongga perut. Bila proses ini terhambat akan
terbentuk kantong di pangkal umbilikus yang berisi usus, lambung, dan kadang
hati. Dindingnya tipis, terdiri atas lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang
keduanya bening sehingga isi kantong tampak dari luar. Keadaan ini di sebut
omfalokel. Bila usus keluar dari titik lemah di lateral umbilikus baik sisi
kanan atau kiri, usus akan berada di luar rongga perut tanpa di bungkus
peritoneum dan amnion. Keadaan ini di sebut gastroschisis. ( R. Sjamsuhidajat.
et al. : 2010)
Gastroschicis
terbentuk akibat kegagalan fusi somite dalam pembentukan dinding abdomen
sehingga dinding abdomen sebagian terbuka. Letak defek umumnya disebelah kanan
umbilicus yang berbentuk normal. Usus sebagian besar berkembang diluar rongga
abdomen janin, akibatnya usus menjadi tebal dan kaku karena pengendapan dan iritasi
cairan amnion dalam kehidupan intra uterin, usus juga tampak pendek, rongga
abdomen janin sempit. Usus – usus, visera, dan seluruh rongga abdomen
berhubungan dengan dunia luar menyebabkan penguapan dan pancaran panas dari
tubuh cepat berlangsung, sehingga terjadi dehidrasi dan hipotermi, kontaminasi
usus dengan kuman juga dapat terjadi dan menyebabkan sepsis, aerologi
menyebabkan usus – usus distensi sehingga mempersulit koreksi pemasukan
kerongga abdomen sewaktu pembedahan. (Nn : 2011)
Gastroschisis merupakan suatu kelainan
ketebalan dinding perut yang lokasinya biasanya disebelaj umbilicus. Usus yang
keluar dari lubang abdomen memperlihatkan tanda-tanda peritonitis kimia sebagai
akibat pengeluaran cairan amnion. Usus menjadi tebal, pendek dan kaku dengan
edema yang jelas di dinding usus. Karena pengendapan dan iritasi cairan amnion
dalam kehidupan intrauterine. Peristaltic tidak ada, kadang-kadang terjadi
iskemik karena puntiran kelainan fascia. Usus
tampak pendek, rongga abdomen janin menjadi sempit.pada anak
memperlihatkan gambaran udara sebagai hasil dilatasi perut dan usus kecil
bagian proksimal, isi intra abdomen normal jelas terlihat dengan kelainan, yang
mana herniasi terjadi pada periode post natal. (Nn:2009)
Kelainan congenital dinding perut ini mungkin disertai
kelainan bawaan lain yang memperburuk prognosis.
Pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kelainan-kelainan pada janin menurut Dr.
Greg Agung H. SpOG adalah
Bersamaan dengan pemeriksaan in spekulo,
dokter juga akan melakukan pemeriksaan dalam atau colok vaginal. Dikatakan
colok vaginal karena dilakukan dengan cara perabaan memakai dua jari dokter
yang dimasukkan ke dalam vagina. Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat besar
rahim atau ukurannya, serta untuk mendeteksi adanya kelainan bawaan rahim.
“Selain itu, juga bisa teraba kalau ada benjolan tumor ataupun polip.”
Dilakukan pada ibu hamil muda atau ibu
yang pertama kali datang untuk memeriksakan diri ke dokter ahli kebidanan dan
kandungan. Karena itu in spekulo dikatakan sebagai pemeriksaan dasar. Pemeriksaan
ini menggunakan spekulum cocor bebek yang dimasukkan ke vagina. Gunanya untuk
melihat keadaan permukaan di leher rahim. Dari pemeriksaan ini, dokter akan
mengetahui apakah ibu yang datang sedang hamil muda atau tidak. Sebab, kala
hamil muda rahim akan berubah warna agak keunguan. Dari pemeriksaan ini pula
dokter akan mengetahui apakah di permukaan leher rahim ada infeksi, jengger
ayam/kandiloma, varises, ataupun bila ada keganasan atau kanker leher rahim.
Dengan demikian, bila dari hasil pemeriksaan ditemukan hal-hal tersebut dokter
bisa segera menentukan langkah-langkah pengobatannya.
USG juga bisa melihat jumlah bayinya,
apakah bayinya terletak di dalam atau di luar kandungan, serta lokalisasi
plasenta. Bahkan USG serial mampu menilai perkembangan siklus dari telur tiap
harinya. Juga untuk memantau masa subur si wanita. Tidak hanya di trimester I,
USG juga perlu dilakukan di usia kehamilan trimester II dan III. “USG yang
dilakukan pada trimester II gunanya untuk skrining bayi. Sedangkan di trimester
III dilakukan untuk memantau proses persalinan
Dilakukan dengan meraba rahim dari luar
untuk melihat pembesaran rahim, letak janin, gerakan janin, serta kontraksi
rahim. Dari pemeriksaan ini pula akan diketahui apabila pembesaran rahim tak
sesuai usia kehamilannya. Kalau rahimnya besar, tapi tak sesuai dengan usia
kehamilannya, maka dokter perlu mencari tahu, apakah janinnya besar atau tidak.
Di trimester III, pemeriksaan luar akan dibantu dengan doppler atau CTG/Cardiotokografi
untuk merekam denyut jantung bayinya.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk
mendeteksi dini kelainan-kelainan yang ada di leher rahim atau untuk menilai
sel-sel leher rahim. Mengapa demikian? Karena sel-sel leher rahim selalu berubah
sesuai siklus. Bukankah pengaruh hormon estrogen dan progesteron menyebabkan
perubahan pada sel-sel selaput lendir vagina? Sehingga secara tak langsung
pemeriksaan ini juga berguna untuk mengetahui fungsi hormonal. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan cara mengambil getah serviks kemudian diperiksa di
laboratorium.
Dilakukan bila ada kecurigaan di daerah
leher rahim dengan cara diteropong. Alat kolposkopi terdiri atas dua alat
pembesaran optik yang ditempatkan pada penyangga yang terbuat dari besi.
“Dengan teropong kolposkopi, kita bisa membesarkan hal-hal yang dicurigai
didaerah leher rahim hingga 20 kali lebih besar.” Bukan hanya peneropongan,
alat ini juga sekaligus bisa langsung memberikan tes. Artinya, dengan
disemprotkan obat tertentu, maka daerah yang dicurigai itu akan berubah warna
menjadi putih atau warna lain.
Adalah pengangkatan dan pemeriksaan
jaringan dari leher rahim untuk tujuan diagnosa. “Kalau pada pemeriksaan pap
smear dilakukan dengan cara mengambil hapusan cairan leher rahim. Kalau biopsi,
jaringannya yang diambil dengan semacam alat atau jepitan.” Selanjutnya,
jaringan yang telah diambil itu dikirim ke laboratorium. “Biasanya biopsi
dilakukan bila ada kecurigaan berupa benjolan asing atau ada perubahan anatomi.
Karena itu harus dilakukan pengambilan jaringan untuk melihat apakah benjolan
asing itu adalah polip, tumor, atau kanker.
Diagnostik kuretase dilakukan untuk
mengambil sel-sel dari jalan lahir. “Biasanya dilakukan pada pasien yang
mengalami perdarahan diluar haid. Apalagi bagi yang sudah menopause.” Gunanya
untuk mendeteksi kelainan-kelainan di jalan lahir atau di dalam rahim atau bila
ada keganasan. Waktu pemeriksaan bisa dilakukan kapan saja bila ada perdarahan.
Dilakukan pada pasien-pasien yang
terkena infeksi berulang. Misalnya, keputihan yang berulang atau radang panggul
yang tak kunjung sembuh.Bila ada gejala seperti di atas, maka dokter akan
mengambil cairan di vaginanya untuk dilihat di laboratorium. Kuman-kuman apakah
yang ada di dalamnya. “Dari situ kita bisa memberi obat sesuai kuman yang
didapat di daerah itu. Biasanya obatnya berupa antibiotik disertai cairan
pembersih vagina untuk memanipulasi pH vagina agar menjadi asam
Seperti halnya hidrotubasi, HSG
dilakukan untuk menilai saluran tuba dan tumor-tumor yang ada di sekitarnya.
“Saluran tuba ini bisa terbelokkan oleh adanya tumor. Karena itu diperlukan
pemeriksaan HSG.” Pemeriksaan HSG juga dilakukan pada hari ke-7 hingga ke-11
siklus haid. “Karena saat itu dinding dalam rahim paling tipis, juga sel telur
tidak ada, sehingga paling pas untuk dilakukan pemeriksaan HSG ataupun
hidrotubasi.
Sama seperti halnya HSG, pemeriksaan ini
digunakan untuk menilai saluran tuba. “Jika HSG menggunakan zat radioaktif,
maka hycosy memakai bantuan USG vaginal.” Hycosy merupakan pencanggihan dari
hidrotubasi. Jadi, bisa dilakukan sekaligus dengan hidrotubasi.
Suatu alat yang masuk ke dalam rahim
yang dilengkapi dengan kamera, sehingga visualisasi yang dicapai lebih baik.
“Sementara kalau HSG tidak bisa melihat permukaan dalam rahim, seperti kalau
ada polip, maka dengan histeroskopi akan terlihat permukaan dalam rahim dan
saluran tuba.” Histeroskopi juga sekaligus bisa untuk diagnosis dan terapi.
“Jadi, kalau ditemukan polip di rahim, kita bisa langsung melasernya. Pun kalau
ada kelainan lainnya bisa langsung diambil. Bahkan kalau ada sekat dalam rahim,
bisa langsung dilakukan pemotongan sekat tersebut.
Pemeriksaan untuk melihat bagian dalam
rahim secara keseluruhan. Jadi, semuanya akan kelihatan. Dalam pemeriksaan ini
akan dimasukkan suatu alat teropong yang ditembuskan melalui perut. Itulah
mengapa, pemeriksaan laparoskopi termasuk dalam tindakan operatif.
Bila usus atau organ
intra abdomen terletak diluar abdomen, maka akan meningkatkan resiko kerusakan
bila melewati kelahiran normal. Banyak ahli menganjurkan diberlakukan seksio
sesaria untuk semua kasus Gastroschisis. Kondisi gastroschisis ini diperbaiki
setelah persalinan melui pembedahan.
Dilakukan secara bertahap tergantung
besar kecilnya lubang pada dinding abdomen. Tujuan pembedahan adalah untuk
mengembalikan visera kedalam kavum abdomen dan menutup lubang abdomen. Operasi
ini harus dikerjakan secepat mungkin sebab tidak ada perlindungan infeksi. Operasi
dua tahap :
Permukaan luar kantong disiapkan
bersama-sama dengan kulit seluruh badan. Pangkal umbilikus direamputasi dan
diikat dekat batasnya dengan kantong. Kulit diiris melingkar 1 cm dari tepi
kantong yang tidak boleh dibuka. Kulit dan jaringan subkutan dinding abdomen
dan panggul secara ekstensif dilepaskan dari lapisan aponeurosis untuk
memungkinkan masa ekstra abdomen ditutup dengan potongan kulit yang viabel.
Diseksi toraks harus dibatasi sesedikit mungkin sesuai dengan penutupan kulit
yang diberikan. Potongan kulit diangkat dengan forsep jaringan dan penutupan
dilakukan dengan memakai jahitan kasur simpul.
Tahap ini ditunda sampai ronga perut
berkembang dan telah dimungkinkan mereduksi hernia ventral jika anak berbaring
dengan tenang. Pada waktu operasi kulit dan kantong yang berlebihan dieksisi
dan peritoneum, lapisan-lapisan fasia serta kulit didekatkan seperti pada
reparasi tahap I. (Nn : 2009)
Pada
sekitar 7-12 hari pasca pembedahan anak akan kembali mengalimi pembedahan untuk
menjalani perbaikan cacat, namun ini tergantung kondisi bayi (lemah atau tidak).
(Nn : 2011)
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
Pengkajian pada pasien
dengan gastroschicis adalah
Diagnosa Preoprasi
Kriteria hasil :
Intervensi
:
Kriteria hasil :
Intervensi
:
Kriteria hasil :
Intervensi
:
Kriteria hasil :
Intervensi
:
Diagnosa
Post Operasi :
Kriteria hasil :
Intervensi
:
Kriteria hasil :
Intervensi
:
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama…..pasien
menunjukkan keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria hasil:
NIC
:
NOC : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama…..pasien menunjukkan keefektifan pola nafas, dibuktikan
dengan kriteria hasil:
NIC :
BAB
IV
PENUTUP
Gastroschisis adalah kelainan konginental yang terjadi
karena adanya defek pada abdomen yang biasanya terletak disebelah kanan yang
menyebabkan organ visera terletak disebelah luar rongga abdomen tanpa dibungkus
peritoneum dan amnion. Gastroschisis kemungkinan disebabkan oleh rupture dasar
tali pusat didaerah yang telah mengalami kelemahan akibat involusi vena
umbilikalis kanan sehingga memudahkan isi abdomen herniasi ke rongga amnion. Komplikasi
dini dari gastroschicis adalah infeksi yang mudah terjadi pada permukaan usus yang
telanjang. Kondisi gastroschisis ini diperbaiki setelah
persalinan melui pembedahan. Pembedahan dilakukan 2 tahap dengan tujuan untuk
mengembalikan visera kedalam kavum abdomen dan menutup lubang abdomen. Diagnosa
keperawatan untuk kasus gastroschicis adalah
Dari penjelasan
diatas penulis memiliki beberapa saran diantaranya:
DAFTAR
PUSTAKA
Bagus, Herman. 2013. “Diagnosa
Keperawatan NANDA”. (Online), (http://daftar-diagnosa-keperawatan-nanda-noc.html,
diakses pada 25 Oktober)
Chapman, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan : persalinan dan kelahiran.
Jakarta : EGC.
Cunningham, F.G et all. 2005. Obstretri Williams. Jakarta : EGC.
H, Greg Agung.”Pemeriksaan Kehamilan”,
(Online), (http://greg-spog. com/
pelayanan/pemeriksaan-kehamilan/ , diakses pada
25 Oktober 2013 )
Haws, Paulette S. 2008. Asuhan Neonatus. Jakarta : EGC.
Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan. Jakarta : EGC.
Idris, Ishawati Nur.2011.
”Gastrochisis”, (Online), (http://iisidris.blogspot.com/
2011/01/gastroschisis.html, diakses pada 25 Oktober 2013)
Mahyudin, Oden. 2011. “Gastroschisis”,
(Online), (http://asromedika.blogspot.
com/2011/10/gastroschisis.html, diakses pada 25
Oktober 2013)
Nn. 2009. “Gastroschicis”, (Online), (http://tentangkedokteran
.wordpress, com/ 2009/03/14/gastroschicis/,
diakses pada 25 Oktober 2013)
Nn. 2011. “Askep Anak dengan
Gastroschizis”, (Online), (http://nayyara09
habib10.blogspot.com/2011/03/askep-anak-dengan-gastroschizis.html,
diakses pada 25 Oktober 2013)
Sadler, T. W.1997. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta : EGC.
Sharon J. Reeder et all. 2011. Keperawatan Maternitas : Kesehatan Wanita,
Bayi, & Keluarga. Jakarta : EGC.
Sjamsuhidajat,R. et al. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong.
Jakarta: EGC.
Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan : Gangguan Sistem Gastrointestinal dan Hepatobilier.
Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M dan Nancy R. Ahern.
201. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.
Jakarta : EGC.
0 komentar:
Posting Komentar