BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Penyakit Meniere adalah gangguan
yang menyerang telinga bagian dalam dan spontan menyebabkan vertigo, dibarengi
dengan gangguan pendengaran yang fluktuatif, telinga berdenging (tinnitus), dan
rasa tekanan di telinga. Pada kebanyakan kasus, penyakit Meniere hanya
mempengaruhi satu telinga saja. Tetapi bisa terjadi pada kedua telinga dan
dialami kira-kira 10% sampai 20% dari pasien-pasien penyakit meniere.
Penyakit Meniere
secara khas mulai antara umur 20 dan 50 tahun (meskipun telah dilaporkan pada
hampir semua kelompok umur). Pria-pria dan wanita-wanita sama-sama dipengaruhi.
Namun orang-orang pada usia 40-an dan 50-an lebih berisiko memiliki penyakit
ini dibandingkan kelompok usia lainnya, tetapi penyakit ini bisa juga terjadi
pada siapa saja, bahkan anak-anak. Penyakit Meniere
menyebabkan rasa pusing yang hebat, tinitus (telinga berdengung), tuli, dan
gangguan keseimbangan. Saat ini tidak ada yang dapat menyembuhkan penyakit
Meniere. Akan tetapi, dengan membatasi garam, perencanaan pola makan yang
seksama, dan diuretik ringan (obat yang digunakan untuk meningkatkan jumlah
urin), gejala Penyakit Meniere seringkali akan mereda.
Oleh
karena itu diharapkan dengan dibuatnya makalah tentang asuhan keperawatan pada pasien
dengan penyakit meniere ini dapat memberi asuhan keperawatan yang tepat benar.
B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut:
a.
Tujuan Umum
Mahasiswa
mampu memahami konsep asuhan keperawatan pada klien dengan Meniere’s Disease
b.
Tujuan Khusus
1)
Memaparkan konsep penyakit Meniere’s
Disease yang meliputi anatomi fisiologi sistem Persepsi dan Sensori, definisi,
etiologi, patofisiologis, manifestasi klinik, komplikasi yang terjadi,
penatalaksanaan medis, keperawatan dan manajemen diet.
2)
Memahami asuhan keperawatan pada klien
dengan Meniere’s Disease dengan metodologi asuhan keperawatan dengan benar
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Anatomi
dan Fisiologi
Telinga adalah organ pendengaran. Telinga terdiri dari tiga
bagian yaitu
1. Telinga luar (Auris eksterna)
Telinga luar terdiri atas aurikel atau pinna, meatus
auditorius eksterna, dan membran timpani.
a. Aurikel atau pinna berbentuk tidak
teratur serta terdiri atas tulang rawan dan jaringan fibrus, kecuali pada ujung
paling bawah, yaitu cuping telinga, yang terutama terdiri atas lemak. Aurikel
berfungsi membantu pengumpulan gelombang suara.
b. Meatus auditoris eksterna (liang
telinga) merupakan saluran penghubung aurikel dengan membran timpani.
Panjangnya ± 2,5 cm, terdiri dari tulang rawan dan tulang keras. Saluran ini
mengandung rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat, khususnya menghasilkan
sekret berbentuk serum.
c. Membran timpani atau gendang telinga
menghubungkan meatus auditorius eksterna dengan rongga timpani. Membran ini
berukuran ± 1 cm dan berwarna kelabu mutiara. (Evelyn C. Pearce :2009 hal 394)
2. Telinga tengah (Auris media)
Telinga tengah atau rongga timpani adalah bilik kecil yang
mengandung udara. Rongga itu terletak sebelah dalam membran timpani. Pada
bagian ini terdapat Tuba Eustakhius dan tulang-tulang pendengaran.
a. Tuba Eustakhius
Tuba Eustakhius bergerak ke depan dari rongga telinga tengah
menuju nasofaring. Celah tuba eustakhius akan tertutup jika dalam keadaan
biasa, dan akan terbuka setiap kali kita menelan. Dengan demikian tekanan udara
dalam ruang timpani dipertahankan tetap seimbang dengan tekanan udara di
atmosfer, sehingga cedera atau ketulian akibat tidak seimbangnya tekanan udara
dapat dihindarkan. Adanya hubungan dengan nasofaring ini memungkinkan infeksi
pada hidung atau tenggorokan dapat menjalar masuk ke dalam rongga telinga
tengah.
b. Tulang-tulang pendengaran
Tulang-tulang pendengaran adalah tiga tulang kecil yang
tersusun pada rongga telinga tengah seperti rantai yang bersambung dari membran
timpani menuju rongga telinga dalam yaitu :
1) Tulang sebelah luar adalah maleus, berbentuk
seperti martil dengan gagang yang terkait pada membran timpani, sementara
kepalanya menjulur ke dalam ruang timpani.
2) Tulang yang berada di tengah adalah
inkus atau landasan, sisi luarnya bersendi dengan maleus, sementara sisi
dalamnya bersendi dengan sisi dalam sebuah tulang kecil, yaitu stapes.
3) Stapes atau tulang sanggurdi
dikaitkan dengan inkus dengan ujungnya yang lebih kecil, sementara dasarnya
yang bulat panjang terkait pada membran yang menutup fenestra vestibule atau
tingkap jorong. Rangkaian tulang-tulang ini berfungsi mengalirkan getaran suara
dari gendang telinga menuju rongga telinga dalam. (Evelyn C. Pearce :2009 hal 395)
3. Telinga dalam (Auris interna)
Rongga telinga dalam itu terdiri atas
berbagai rongga yang menyerupai saluran-saluran dalam tulang temporalis.
Rongga-rongga itu disebut labirin tulang dan dilapisi membran sehingga
membentuk labirin membranosa. Saluran-saluran bermembran ini mengandung cairan
dan ujung-ujung akhir saraf pendengaran dan keseimbangan.
a. Labirin tulang terdiri atas tiga
bagian:
1) Vestibula yang merupakan bagian
tengah, dan tempat bersambungnya bagian-bagian yang lain, ibarat sebuah pintu
yang menuju ruang tengah (vestibula) pada sebuah rumah.
2) Kanalis semisirkularis (saluran
setengah lingkaran) bersambung dengan vestibula. Kanalis semisirkularis
merupakan saluran setengah lingkaran yang terdiri dari tiga saluran. Saluran
satu dengan yang lainnya membentuk sudut 900, saluran tersebut yaitu kanalis
semisirkularis superior, kanalis semisirkularis posterior, dan kanalis
semisirkularis lateralis.
3) Koklea adalah sebuah tabung berbentuk
spiral yang membelit dirinya seperti sebuah rumah siput. Belitan-belitan itu
melingkari sebuah sumbu berbentuk kerucut yang memiliki bagian tengah dari
tulang, dan disebut modiulus. Ada dua tingkap dalam ruang melingkar (koklea),
yaitu: Fenestra vestibule (tingkap jorong) disebut juga fenestra ovalis, karena
bentuknya yang bulat panjang. Ditutupi oleh tulang stapes. Fenestra koklea
disebut juga fenestra rotunda, karena bentuknya yang bulat ditutupi oleh sebuah
membran. Kedua-duanya menghadap ke telinga dalam. Adanya tingkap-tingkap ini
dalam labirin tulang bertujuan agar getaran dapat dialihkan dari rongga telinga
tengah, guna dilangsungkan dalam perilimfa. Getaran dalam perilimfa dialihkan
menuju endolimfa, dan dengan demikian merangsang ujung-ujung akhir saraf
pendengaran. Endolimfa adalah cairan dalam labirin membranosa, sementara
perilimfa adalah cairan di luar labirin membranosa dan dalam labirin tulang.
Jika terjadi ketidakseimbangan antara endolimfa dan perilimfa, maka akan
menimbulkan kelainan. (Evelyn C.
Pearce :2009 hal 396)
b. Labirin membranosa terdiri dari:
1) Utrikulus, bentuknya seperti kantong
lonjong dan agak gepeng terpaut pada tempatnya oleh jaringan ikat.
2) Sakulus bentuknya agak lonjong lebih
kecil dari utrikulus, terletak pada bagian depan dan bawah dari vestibulum dan
terpaut erat oleh jaringan ikat, tempat terdapat nervus akustikus.
3) Duktus semisirkularis. Ada tiga
cabang selaput semisirkularis yang berjalan dalam kanalis semisirkularis
(superior, posterior, dan lateralis).
4) Duktus koklearis, merupakan saluran
yang bentuknya agak segitiga seolah-olah membuat batas pada koklea timpani. (Evelyn C. Pearce :2009 hal 396)
B. Definisi
penyakit meniere adalah gangguan kronis saluran
semisirkular dan labirin telinga dalam, tampak berhubungan dengan over produksi
endolimfe di telinga dalam ( Elizabeth J Corwin : 2009 ).
Penyakit Maniere adalah suatu kelainan labirin yang
etiologinya belum diketahui dan mempunyai trias gejala yang khas, yaitu gangguan
pendengaran, tinnitus dan serangan vertigo (Kapita Selekta Edisi 3).
Penyakit Ménière adalah penyakit telinga batin yang
mempengaruhi tekanan fluida endolymphatic dalam bagian-bagian yang lebih dalam
telinga yang bertanggung jawab untuk keseimbangan dan mendengar fungsi. Gejala
biasanya mempengaruhi fungsi-fungsi ini dan mungkin berbeda dari orang ke
orang. (Ananya Mandal : 2013)
C. Tipe
meniere disease
1. Penyakit
Meniere vestibular
Penyakit Meniere vestibular ditandai dengan adanya vertigo
episodic sehubungan dengan tekanan dalam telinga tanpa gejala koklear. Tanda
dan gejala:
a) Vertigo hanya bersifat episodic
b) Penurunan respons vestibuler atau
tak ada respons total pada telinga yang sakit
c) Tak ada gejala koklear
d) Tak ada kehilangan pendengaran
objektif
e) Kelak dapat mengalami gejala dan
tanda koklear
2. Penyakit
Meniere klasik, Tanda
dan gejala:
a) Mengeluh vertigo
b) Kehilangan pendengaran sensorineural
berfluktuasi
c) tinnitus
d) Penyakit Meniere koklea
3. Penyakit
Meniere koklea
Penyakit Meniere koklea dikenali dengan adanya kehilangan
pendengaran sensorineural progresif sehubungan dengan tnitus dan tekanan dalam
telinga tanpa temuan atau gejala vestibuler. Tanda dan gejala:
a) Kehilangan pendengaran berfluktuasi
b) Tekanan atau rasa penuh aural
c) Tinnitus
d) Kehilangan pendengaran terlihat pada
hasil uji
e) Tak ada vertigo
f) Uji labirin vestibuler normal
g) Kelak akan menderita gejala dan
tanda vestibuler ( Nn: 2011)
Tingkat derajat keparahan penyakit
Meniere ;
1. Derajat I :
Gejala
awal berupa vertigo yang disertai mual dan muntah. Gangguan vagal seperti pucat
dan berkeringat dapat terjadi. Sebelum gejala vertigo menyerang, pasien dapat
merasakan sensasi di telinga yang berlangsung selama 20 menit hingga beberapa
jam. Diantara, pasien sama sekali normal.
2. Derajat II :
Gangguan
pendengaran semakin menjadi-jadi dan berfluktuasi. Muncul gejala tuli
sensorineural terhadap frekuensi rendah.
3. Derajat III :
Gangguan
pendengaran tidak lagi berfluktuasi namun progresif memburuk. Kali ini mengenai
kedua telinga sehingga pasien seolah mengalami tuli total. Vertigo mulai berkurang
atau menghilang. (Nuzulul Zulkarnain Haq : 2009)
D. Etiologi
Penyebab pasti dari penyakit Meniere sampai sekarang belum
diketahui secara pasti, banyak ahli mempunyai pendapat yang berbeda. Sampai
saat ini dianggap penyebab dari penyakit ini disebabkan karena adanya gangguan
dalam fisiologi sistem endolimfe yang dikenal dengan hidrops endolimfe, yaitu
suatu keadaan dimana jumlah cairan endolimfe mendadak meningkat sehingga
mengakibakan dilatasi dari skala media. Tetapi, penyebab hidrops endolimfe
sampai saat ini belum dapat dipastikan. Ada beberapa anggapan mengenai penyebab
terjadinya hidrops, antara lain :
1.
Meningkatnya
tekanan hidrostatik pada ujung arteri
2.
Berkurangnya
tekanan osmotik di dalam kapiler
3.
Meningkatnya
tekanan osmotik ruang ekstrakapiler
4.
Jalan
keluar sakus endolimfatikus tersumbat, sehingga terjadi penimbunan endolimfa
5.
Infeksi
telinga tengah
6.
Infeksi
traktus respiratorius bagian atas
7.
Trauma
kepala
8.
Konsumsi
kafein dan makanan yang mengandung garam tinggi
9.
Konsumsi
aspirin, alkohol, dan rokok yang berkepanjangan
10.
Infeksi
virus golongan herpesviridae
11.
Herediter
Berikut akan dijelaskan mengenai
penyebab yang dianggap dapat mencetuskan penyakit Meniere:
1.
Virus
Herpes (HSV)
Herpes virus banyak ditemukan pada
pasien Meniere. Pernah ada laporan bahwa 12 dari 16 pasien Meniere terdapat DNA
virus herpes simpleks pada sakus endolimfatikusnya. Selain itu pernah
dilaporkan juga pada pasien Meniere yang diberi terapi antivirus terdapat
perbaikan. Tetapi anggapan ini belum dapat dibuktikan seluruhnya karena masih
perlu penelitian yang lebih lanjut.
2.
Herediter
Pada penelitian didapatkan 1 dari 3
orang pasien mempunyai orang tua yang menderita penyakit Meniere juga.
Predisposisi herediter dianggap mempunyai hubungan dengan kelainan anatomis
saluran endolimfatikus atau kelainan dalam sistem imunnya.
3.
Alergi
Pada pasien Meniere didapatkan bahwa
30% diantaranya mempunyai alergi terhadap makanan. Hubungan antara alergi
dengan panyakit Meniere adalah sebagai berikut : Sakus endolimfatikus mungkin
menjadi organ target dari mediator yang dilepaskan pada saat tubuh mengadakan
reaksi terhadap makanan tertentu. Kompleks antigen-antibodi mungkin menggangu
dari kemampuan filtrasi dari sakus endolimfatikus. Ada hubungan antara alergi
dan infeksi virus yang menyebabkan hidrops dari sakus endolimfatikus
4.
Trauma
kepala
Jaringan parut akibat trauma pada
telinga dalam dianggap dapat menggangu aliran hidrodinamik dari endolimfatikus.
Anggapan ini diperkuat dengan adanya pasien Meniere yang mempunyai riwayat
fraktur tulang temporal.
5.
Autoimun
Ada pula anggapan dari ahli yang
menyatakan bahwa hidrops endolimfe bukan merupakan penyebab dari penyakit
Meniere. Ini dikatakan oleh Honrubia pada tahun 1999 dan Rauch pada tahun 2001
bahwa pada penelitian otopsi ditemukan hidrops endolimfe pada 6% dari orang
yang tidak menderita penyakit Meniere. Penelitian yang banyak dilakukan
sekarang difokuskan pada fungsi imunologik pada sakus endolimfatikus. Beberapa
ahli berpendapat penyakit Meniere diakibatkan oleh gangguan autoimun. Brenner
yang melakukan penelitian pada tahun 2004 mengatakan bahwa pada sekitar 25 %
penderita penyakit Meniere didapatkan juga penyakit autoimun terhadap tiroid.
Selain itu Ruckenstein pada tahun 2002 juga mendapatkan pada sekitar 40 %
pasien penderita penyakit Meniere didapatkan hasil yang positif pada
pemeriksaan autoimun darah seperti Rheumatoid factor, Antibodi antiphospholipid
dan Anti Sjoegren. (Nuzulul Zulkarnain Haq : 2009)
E. Manifestasi
Klinis
Terdapat trias atau sindrom meniere yaitu :
1.
Vertigo / pusing parah
Terjadi karena tekanan di dalam labirin membranous dan
aparat vestibular. Vertigo parah yang menghasilkan jatuh disebut "drop
serangan". Serangan vertigo mungkin berlangsung selama beberapa menit
hingga 2 hingga 3 jam pada satu waktu. Seiring dengan vertigo ada gejala fisik
terkait seperti mual, muntah, berkeringat, diare dan/atau Palpitasi atau harga
pulsa yang cepat.
2. Tinnitus
Didefinisikan sebagai perasaan kebisingan latar belakang di
salah satu atau kedua telinga atau di kepala di mana tidak ada sumber luar
kebisingan. Kebisingan mungkin rendah bersenandung, dering, berdengung,
whooshing atau mengklik suara. Ini dapat menjadi sangat mengganggu dan sering
mengganggu tidur dan konsentrasi.
3. Hilangnya
pendengaran ( tuli sensorial)
Hal
ini dapat mempengaruhi satu atau kedua telinga. Hilangnya mendengar biasanya
mempengaruhi suara bernada rendah pertama. ( Soepardi, Efiaty Arsyad, dkk : 2007 )
F.
Patofisiologi
Penyakit Meniere disebabkan oleh penumpukan cairan dalam
kompartemen dari telinga bagian dalam, yang disebut labirin. labirin berisi
organ keseimbangan (saluran setengah lingkaran dan organ otolithic) dan
pendengaran (koklea). Hal ini
memiliki dua bagian: labirin tulang dan labirin membran. Labirin membran diisi
dengan cairan yang disebut endolymph, di organ keseimbangan, merangsang
reseptor sebagai benda bergerak. Reseptor kemudian mengirimkan sinyal ke otak
tentang posisi tubuh dan gerakan. Pada koklea, cairan yang dikompresi dalam
merespon suara getaran, yang merangsang sel-sel indera yang mengirimkan sinyal
ke otak. Pada penyakit Meniere, penumpukan endolymph di labirin mengganggu
sinyal keseimbangan dan normal pendengaran antara telinga bagian dalam dan
otak. Kelainan ini menyebabkan gejala vertigo dan lain dari penyakit Meniere.
Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi
ketidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yang disebabkan oleh
malapsorbsi dalam sakus endolimfatikus. Namun, ada bukti menunjukkan bahwa
banyak orang yang menderita penyakit Meniere mengalami sumbatan pada duktus
endolimfatikus. Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidrops endolimfatikus, yang
merupakan pelebaran ruang endolimfatikus. Baik peningkatan tekanan dalam sistem ataupun ruptur
membran telinga dalam dapat terjadi dan menimbulkan gejala Meniere. (Nn : 2010)
G.
Komplikasi
1.
Neuronitis vestibularis.
2.
Labirinitis.
3.
Tuli total.
4.
Vertigo posisi paroksimal
jinak (VJJP).
5.
Vertigoservical. (NNn:2011)
H.
Pathway (terlampir)
I.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Tes
gliserin
Pasien diberikan minuman gliserin
1,2 ml/kg BB setelah diperiksa tes kalori dan audiogram.setelah dua jam
diperiksa kembali dan dibandingkan.
2.
Audiogram
:tuli sensorineural,terutama nada rendah dan selanjutnya dapat ditemukan
rekrutinen.
3.
Elektrokokleografi
Menunjukkan abnormalitas pada 60%
pasien yang menderita penyakit meniere.
4.
Elektronistagmogram
bisa normal atau menunjukkan penurunan respons vestibuler.
5.
CT
scan atau MRI kepala
6.
Elektroensefalografi
7.
Stimulasi
kalorik (Jefri K. Hasan : 2012)
J.
Penatalaksanaan
1. Medis
a. Terapi
1) Terapi Medis Profilaksis
Terapi
medis diarahkan untuk mengatasi proses
penyakit yang mendasarinya atau mengontrol serangan vertigo selama eksaserbasi
penyakit.
a) Vasodilator
Vasidilator
yang sering digunakan adalah Betahistin HCl 8 mg 3 kali sehari, jika tidak
terdapat ulkus peptikum. Alternatif lain adalah asam nikotinat, histamine dan
siklandelat. Vasodilator digunakan akibat gangguan pada endolimfe oleh kelainan
vaskuler.
b) Antikolinergik
Probantin
telah digunakan sebagai terapi meniere karena teori bahwa hidrops endolimfatik
disebabkan oleh disfungsi susunan saraf autonom di telinga dalam.
c) Penggunaan Hormon Tiroid
Penggunan
hormone tiroid didasrkan atas teori bahwa hipotiroidisme ringan adalah termasuk
penyebab hidrops endolimfatik.
d) Pemberian Vitamin
Pemberian
vitamin berdasarkan atas teori bahwa penyakit meniere akibat defisiensi
vitamin. Vitamin yang biasa diberikan adalah vitamin B kompleks, asam askorbat
dan senyawa sitrus bio-flavonoid (Lipoflavonoid).
e) Diet rendah garam dan Pemberian
diuretic
Diet
rendah garam dan pemberian diuretic dimaksudkan adalah agar menurunkan jumlah
cairan tubuh dengan harapan juga menurunkan cairan endolimfe.
f) Program pantang makanan
Terapi
ini kadang digunakan pada meniere yang bias disebabkan akibat terjadinya suatu
alergi makanan.
2) Terapi Simtomatik
Terapi
simtomatik ditujukan untukl menghentikan atau mengurangi hebatnya serangan
vertigo dan tanpa berdalih berusaha mengoreksi sebab dasar penyakit Meniere.
a) Sedative
Sedative
dalam dosis ringan seperti fenobirtal atau trankulizer seperti diazepam
(Valium) sering menolong pasien rileks dan menurunkan frekuensi serangan
vertigo.
b) Antihistamine dan antiemetic
Antihistamin
dan antiemetic tertentu efektif menghentikan atau mengurangi keparahn seringan
vertigo pada pasien Meniere. Antihistamin yang sering diberikan adalah
dimenhidrinat (dramamine) dan siklizin (Marezine). Sedangkan antiemetic yang
biasa digunakan adalah antiemetic diferidol.
c) Depresan vestibuler
Depresan
vestibuler digunakan unruk mencegah atau mengurangi keparahan serangan vertigo
dan untuk terapi pasien selama eksaserbasi penyakit ini sampai terjadi remisi
spontan.
b. Pembedahan
Pembedahan
dianjurkan jika gejalanya tidak dapat diatasi dengan terapi. Prosedur
pembedahan konservatif, misalnya operasi dekompresi salus endolimfatikus,
ditujukan untuk mempertahankan pendengaran pad telinga yang mengalami gangguan.
Tindakan ini mengandung sedikit resiko menyebabkan kerusakan pendengaran dan
betujuab ubtuk mengatasi serangan
vertigo, serta dapat mencegah penyakit Meniere. Pembedahan dibagi menjadi 3
kelompok : bedah destruktif, bedah destruktif sebagian dan bedah nondestruktif.
c. Labirinektomi
Labirinektomi
atau destruksi total pada labirintus
membranaseus, merupakan jaminan pasti untuk menyembuhkan vertigo pada penyakit
Meniere, tetapi terpaksa harus mengorbankan pendengaran secar total pada
telinga yang bersangkutan. Tindakan ini boleh dipertimbangkan bila kehilangan
pendengaran pada salah satu telinga sudah demikian berat sedang telinga yang
satu lagi masih mampu mempertahankan fungsi normalnya. (Nuzulul Zulkarnain Haq
: 2009)
2.
Manajemen Diet
Banyak pasien dapat mengontrol gejala dengan mematuhi
diet rendah garam (2000 mg/hari). Jumlah
natrium merupaka salah satu faktor yang mengatur keseimbangan cairan dalam
tubuh. Retensi natrium dan ciran dapat memutuskan keseimbangan halus antara
endolimfe dan perilimfe di dalam telinga dalam.
Garam Natrium terdapat secara alamiah dalam bahan makanan
atau ditambahkan kemudian pada waktu memasak atau mengolah. Makanan berasal
dari hewan biasanya lebih banyak mengandung garam Natrium daripada makanan
berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Garam Natrium yang ditambahkan ke dalam makanan biasanya
berupa ikatan : natrium Chlorida atau garam dapur, soda kue, Natrium Benzoat
atau senyawa yang digunakan untuk mengawetkan daging seperti cornet beef.
Makanan yang diperbolehkan adalah:
a.
Semua
bahan makanan segar atau diolah tanpa garam natrium, yang berasal dari
tumbuh-tumbuh, seperti yang biasa kita konsumsi yaitu antara lain :
1)
Beras,
kentang, ubi, mie tawar, maezena, hunkwee, terigu, gula pasir.
2)
Kacang-kacangan
dan hasil oleh kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacang merah, kacang
tanah, kacang tolo, tempe, tahu tawar, oncom.
3)
Sayuran
dan buah-buahan
4)
Bumbu-bumbu
seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, kunyit, kencur.
5)
Bahan
makanan berasal dari hewan dalam jumlah terbatas.
b.
Makanan
yang perlu dibatasi:
Semua
bahan makanan segar atau diolah tanpa garam Natrium, yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan, seperti :
1) Roti biskuit, kraker, cake dan kue lain yang dimasak dengan
garam dapur dan atau soda.
2) Dendeng, abon, corned beef, daging asap, bacon, ham, ikan
asin, ikan pindang, sarden, ebi, udang kering, telur asing, telur pindang.
3) Acar, asinan sayuran dalam kaleng.
4) Asinan buah, manisan buah, buah dalam kaleng.
5) Garam dapur, vetsin, soda kue, kecap, maggi, terasi,
petis, taoco, tomato ketcup.
6) Otak, ginjal, paru-paru, jantung dan udang mengandung
lebih banyak natrium. Sebaiknya bahan makanan ini dihindarkan.
7) Kafein dan nikotin merupakan stimulan vasoaktif, dan
menghindari kedua zat tersebut dapat mengurangi gejala. Ada kepercayaan bahwa
serangan vertigo dipicu oleh reaksi alergi terhadap ragi dalam alkohol dan
bukan karena alkoholnya. (Jefri K. Hasan : 2012)
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
1.
Identitas Klien
Nama,
tempat tanggal lahir, jenis kelamin,umur, pekerjaan, nama ayah/ ibu, pekerjaan,
alamat, agama, suku bangsa, pendidikan terakhir.
2.
Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan
Utama
b. Riwayat
Penyakit Sekarang
c. Riwayat
Penyakit dahulu
d. Riwayat
Keluarga
e. Riwayat
Pengobatan
3.
Observasi Dan Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan
Umum
b. Tanda-Tanda
Vital : Suhu, nadi, tekanan darah, dan respiratory rate (RR).
c. Pemeriksaan
pendengaran
Tes
Weber
Tes
Rinne
Tes
Swabach
d. Pemeriksaan
per sistem :
B1
: Breathing (Sistem Pernapasan)
Bentuk dada
Pola nafas
Suara napas
Retraksi otot bantu napas
Alat bantu pernapasan
B2
: Blood (Sistem Kardiovaskular)
Irama
jantung
Akral
Tekanan
darah
B3
: Brain (Sistem Persyarafan)
Tinitus,
penurunan pendengaran, vertigo
B4
: Bladder (Sistem Perkemihan)
B5
: Bowell (Sistem Pencernaan)
Asupan nutrisi : terganggu akibat mual, muntah
dan anoreksia
B6
: Bone (Sistem Integumen dan Muskuloskeletal)
Turgor
kulit : menurun
Mobilitas
fisik : lemah, malaise
B.
Diagnosa
dan Intervensi Keperawatan
1. Gangguan persepsi
sensori berhubungan dengan gangguan pendengaran.
Tujuan:
Gangguan persepsi sensori dapat teratasi.
Kriteria
Hasil :
a. Rasa berdenging dapat
hilang/berkurang.
b. Komunikasi efektif antara klien,
keluarga dan tenaga kesehatan.
Intervensi :
a. Monitor tingkat kelemahan persepsi
klien
Rasional:
mengusahankan mobilitas fisik yang sesuai dengan kebutuhan klien.
b. Memperbaiki komunikasi seperti
berbicara dengan tegas dan jelas.
Rasional:
menjaga privasi klien dan keluarga
c. Ajarkan cara berkomunikasi yang
tepat yaitu menggunakan tanda nonverbal seperti ekspresi wajah, menunjukkan
dengan sikap tubuh.
Rasional:
putuskan solusi bersama agar klien dan perawat dapat berkomunikasi dengan
efektif.
d. Mengurangi kegaduhan lingkungan.
Rasional
: memberikan kenyamanan kepada pasien.
2. Resiko
cedera b/d perubahn mobilitas karena gangguan cara jalan dan vertigo.
Tujuan
:
a. Tetap bebas dari cedera yang
berkaitan dengan ketidakseimbangan dan/jatuh .
Kriteria hasil :
a. Tidak mengalami jatuh akibat gagguan
keseimbangan.
b. Ketakutan dan ansietas berkurang
c. Melakukan latihan sesuai ketentuan
d. Mengenali sifat rasa penuh atau rasa
tekanan di dalam telinga yang terjadi sebelum serangan
e. Segera melakukan posisi horizontal
saat pusing
f. Menjaga kepala tetap diam saat
pusing
g. Menggunakn obat yang diresepkan
secara baik
h. Melaporkan upaya yang dapat
mengurangi vertigo.
Intervensi :
a. Kaji vertigo yang meliputi riwayat,
amitan, gambaran serangan, durasi, frekuensi, dan adanya gejala telinga yang
terkait kehilangan pendengaran, tinitus, rasa penuh di telinga.
Rasional
: Riwayat memberikan dasar untuk intervensi selanjutnya.
b. Kaji luasnya ketidakmampuan dalam
hubungannya dengan aktivitas hidup sehari-hari.
Rasional
: Luasnya ketidakmampuan menurunkan resiko jatuh.
c. Ajarkan atau tekankan terapi
vestibular/keseimbangan sesuai ketentuan.
Rasional
: Latihan mempercepat kompensasi labirin yang dapat mengurangi vertigo
dan gangguan cara jalan.
d. Berikan atau ajari cara pemberian
obat anti vertigo aaaaaadan atau obat peneang vestibular serta beri petunjuk
pada pasien mengenai efek sampingnya.
Rasional
:Menghilangkan gejala akut vertigo.
e. Dorong pasien untuk berbaring bila
merasa pusing,dengan pagar tempat tidur dinaikkan.
f. Rasional :Mengurangi kemungkinan
jatuh dan cedera.
g. Letakkan bantal pada kedua sisi
kepal untuk membatasi gerakkan.
Rasional
:Gerakkan akan memperberat vertigo.
h. Bantu pasien mencari dan menetukan
aura (adanya gejala aural) yang mendahului terjadinya setiap serangan.
Rasional
: Pengenalan aura dapat membantu mengetahui saat perlunya memakai obat sebelum
terjadi serangan sehingga dapat meminimalkan beratnya efek.
i. Anjurkan pasien tetap membuka
matanya dan memandang lurus ke depan ketika berbaring dan mengalami vertigo.
Rasional
: Perasaan vertigo berkurang dan gerakan mengalami deslerasi bila mata tetap di
jaga pada posisi yang tetap.
3. Resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan : kebutuhan
nutrisi klien terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Menunujukkan
peningkatan/mempertahankan berat badan.
b. Tidak mengalami mual dan muntah
c. Menununjukkan
perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat
badan yang sesuai.
Intervensi:
a. Kaji
riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai.
Rasional : mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi
Rasional : mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi
b. Observasi
dan catat masukkan makanan pasien.
Rasional : mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.
Rasional : mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.
c. Berikan
makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan.
Rasional : menurunkan
kelemahan, meningkatkan pemasukkan.
d. Berikan
pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka,
Rasional : meningkatkan
nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan
kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila
jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.
e. Kolaborasi
pada ahli gizi untuk rencana diet.
Rasional : membantu
dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual.
f. Kolaborasi pemberian obat :
Antiemetik, seperti supositoria prometazin (phenergan), Antidiare.
Rasional : Mengurangi mual dan muntah, mengurangi kehilangan
cairan dan memperbiki masukan per oral, menurunkan motilitas usus dan
kehilangan cairan.
4. Ansietas
berhubungan dengan ancaman,atau perubahan status kesehatan dan efek
ketidakmampuan vertigo.
Tujuan
: Mengurangi atau tidak mengalami ansietas.
Kriteria
Hasil :
a. Ketakutan dan ansietas tentang
serangan vertigo berkurang atau hilang
b. Mencapai pengetahuan dan
keterampilan untuk berkompromi dengan vertigo
c. Merasakan berkurangnya ketegangan, ansietas
dan ketidakpastian.
d. Klien mampu memanfaatkan teknik
manajemen stres bila diperlukan
e. Klien mampu menghindari peristiwa
yang menjengkelkan.
f. Klien mampu mengulangi instruksi
yang diberikan dan menyebutkan pemahaman mengenai penanganan.
Intervensi :
a. Kaji tingkat ansietas. Bantu pasien
mengidentifikasi keterampilan koping yang telah dilakukan dengan berhasil pada
masa lalu.
Rasional
: Memandukan intervensi terapeutik dan partisipatif dalam perawatan diri,
keterampilan koping pada masa lalu dapat mengurangi ansietas.
b. Beri informasi mengenai vertigo dan
penanganannya.
Rasional
: Meningkatkan pengetahuan membantu mengurangi ansietas
c. Dorong pasien mendiskusikan ansietas
dan gali keprihatinan mengenai serangan vertigo.
Rasional
:Meningkatkan kesadaran dan pemahaman hubungan antara tingkat antietas dan
perilaku.
d. Ajarkan pasien teknik
penatalaksanaan stress atau lakukan rujukan bila perluh.
Rasional
: Memperbaiki manajemen stress, mengurangi frekwensi dan beratnya serangan
fertigo.
e. Beri upaya kenyamanan dan hindari
aktivitas yang menyebebkan stress.
Rasional
: situasi penuh stress dapat memperberat gejala kondisi ini.
f. Instruksikan pasien dalam aspek
program pengobatan.
Rasional
: pengetahuan pasien membantu mengurangi ansietas.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Meniere adalah
gangguan yang umum pada telinga, auditori dan vestibular, yang diperkirakan
disebabkan oleh perubahan metabolisme cairan labirin pada sistem vestibular,
hal ini menyebabkan dilatasi membrane labirin karena peningkatan produksi
endolimfe, serangan berat dapat mengakibatkan kecacatan.
Penyakit Meniere disebabkan oleh penumpukan cairan dalam
kompartemen dari telinga bagian dalam, yang disebut labirin.
B.
Saran
Diharapkan perawat dapat menasehati untuk mengubah gaya
hidup dan kebiasaan atau penatalaksanaan pembedahan. Namun penyakit meniere
bukan masalah yang membahayakan jiwa maka, pasien dapat memilih untuk tidak
melakukan tindakan apapun sampai tahap tertentu selama penatalaksanaan. untuk
menghilangkan vertigo atau menghentikan perkembangan atau menstabilkan penyakit
perawat dapat memberikan scopolamin, antihistamin, barbiturat
atau diazepam. Tindakan pembedahan untuk mengurangi
vertigo adalah neurektomi vestibuler, dimana dilakukan pemotongan saraf yang
menuju ke kanalis semisirkularis .
DAFTAR
PUSTAKA
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Haq,
Nuzulul Zulkarnain. 2009. “Askep Meniere”, (Online), (http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35550Kep%20Sensori%20dan%20
Persepsi-Askep%20Meniere.html, diakses pada 10 Mei 2013)
Mandal, Ananya. 2013. “Gejala Penyakit Meniere”,
(Online), (http://www.news-medical.net/health/Symptoms-of-Menieres-disease-(Indonesian).aspx,
diakses pada 10 Mei 2013)
Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius
FKUI.
Nn . 2011. “Asuhan Keperawatan Sindrom Meniere”,
(Online), (Http://Kumpulanbahankesehatan.Blogspot.Com/2011/03/Asuhan-Keperawatan-Sindrome-Meniere-Kmb.Html,
Diakses Pada 10 Mei 2013)
Nn. 2010. “Penyakit Meniere”, (Online), (http://dastodebelto.blogspot.com
/2010/02/penyakit-meniere.html, diakses pada 10 Mei
2013)
Nn. 2011. “Penyakit Meniere”, (Online), (http://adharaspica.blogspot.com
/2011/03/penyakit-meniere.html, diakses pada 10 Mei
2013 )
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk
Paramedis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Soepardi, Eflaty Arsyad, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan, Kepala & Leher. Jakarta : FKUI.